Soe Hok Gie : Memulai dan Tidak Menyelesaikan

Tidak beruntungnya orang adalah dilahirkan, setidaknya dilahirkan dan mati muda. Tetapi lebih sialnya lagi jika mati tua ~Soe Hok Gie~ (Dengan perubahan)

Ketika melihat film Soe Hok Gie (2005) saya terenyuh karena film tersebut memilki makna luas. Dalam kehidupan sebagai manusia, perjalanan kita akan terasa semakin panjang. Bagaimana kita menyikapi hidup ini dan bagaimana mengakhirnya dengan baik. Perjuangan final kita bukanlah untuk melawan arus dunia tetapi memperbaiki hidup kita sendiri agar memanusiakan orang lain.

Vokal vs. Realis

Setidaknya ada 2 gambaran didalam film tersebut. Jaka yang berperan sebagai koordinator PMKRI, yang selalu menyuarakan dengan realisme lewat jalan birokrasi dan Gie sebagai seorang yang vokal. Keduanya memiliki tujuan yang sama, namun jarak yang menentukan. Seorang yang vokal dibekali oleh pengetahuan baik ideal, tetapi tidak mampu membiarkan aksinya tratur. Seorang realis mengetahui dengan baik lingkunganny untuk membangun aksinya, namun belum tentu memiliki pengetahuan baik-ideal. Apakah ini berarti kebuntuan?

Saya bisa menjawabnya ya. Karena diakhir cerita tidak memberikan alternatif gambaran yang sampai pada titik cerah. Jaka yang diceritakan menjadi pejabat dikarenakan berpondasi atas runtuhnya pemerintahan Soekarno, sedangkan Gie harus menelan pil pahit ketika orang yang disekitarnya tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk  menjalankan aksi yang lebih luas

Mungkin sampai disini ada yang setuju dengan opini saya ataupun tidak. Namun, harus diketahui dunia sekarang lebih mengutamakan rasionalitas. Untuk menguji kepada kebenaran harus dirasionalitas bahkan diganti pengertiannya. Dan sampai disini ada pertanyaan bagaimana menjalankan agar api idealisme kita tidak sampai padam. Saya masih berpikir jika idealisme itu dibentuk oleh pengalaman dimana ketika otak, hati, dan kebiasaan bersatu, saya mengemukakan bahwa idealisme harusnya tidak akan hilang karena itu adalah passion kita. Itu adalah jiwa dan semangat.

Akhirnya, untuk melihat idealisme kita masih ada, kita harus membutuhkan effort yang besar untuk menggali dan melihat dari berbagai perspektif. Ada pepatah kita tidak bisa memakaikan ukuran sepatu kita ke orang lain. Namun belum ada yang bilang jika kita ingin membelikan sepatu orang lain kita harus mengetahui ukurannya. Menggunakan paradigma baru, haruslah kita melihat paradigma lain dan bukan berarti kita memakainya

 

Tulisan ini ditujukan untuk para aktivis,

Salam