Sukses vs. Gagal: Bagaimana Persepsi mengubah Kita?

Semua orang pasti sudah melewati tahun 2017 dengan berbagai kondisi, baik tua-muda ataupun senior-yunior. Di belahan dunia yang lain, terdapat orang yang masih berjuang untuk menempuh semesternya di Jepang, Austria, maupun Belanda, di sisi lain masih ada yang mencari pekerjaan setelah lulus, ataupun mahasiswa yang mencari kesempatan magang di lembaga publik atau privat yang terkemuka.

Akan tetapi, sedikit dari kita yang bisa diam sejenak dari rutinitas. Tepat pada hari ini, merupakan kesempatan yang baik bagi kita untuk berefleksi apa yang sudah terjadi. Terutama, kejadian yang membuat idealisme kita harus tetap dipegang, ataupun kejadian yang mengubah kita. Saya mengajukan satu film yang harus ditonton untuk menutup tahun ini berjudul “Brad’s Status”. Dimainkan oleh Ben Stiller, film ini membuat saya berpikir terbalik tentang makna kesuksesan.

Berapa IPKmu, pengalaman apa saja yang sudah kamu peroleh di tempat magang, dan berapa event yang sudah kamu organisir mendapat pengakuan. Mungkin sebagian dari pertanyaan ini pernah ditanyakan oleh orang lain ataupun terlintas saat wawancara kerja. Akan tetapi, pertanyaan itu bisa membuat kita berpikir: Benarkah yang orang katakan itu? Apakah saya bisa mendefinisikan diri saya sukses?

Bagi saya yang paling mengena dalam film ini adalah ketika Ben Stiller melakukan monolog dan bertanya tentang dirinya: Kadang, saya khawatir bahwa orang menganggap diri saya sebuah kegagalan. Banyak orang saat ini mengkonsepsikan dirinya dengan orang lain. Ketika orang misalnya mendapatkan kesempatan conference internasional, diajak oleh dosen untuk proyek, maupun mendapatkan pekerjaan di lembaga terkemuka, selalu ada orang yang menganggap dia hebat, sehingga diri sendiri belum

Tetapi, makna kesuksesan tidak bisa dipersingkat seperti itu, saya harus mengakui bahwa selain kerja keras banyak yang terjadi di diri orang sukses. Dalam film Brad’S Status, Brad melihat temannya bisa memiliki perusahan investasi, tetapi gagal untuk melihat bahwa temannya sedang dikejar oleh aparat hukum dan anaknya yang sedang menderita kanker.

Hal ini membuat saya merasa bahwa apa yang kita pikirkan belum tentu demikian. Mungkin saya berpikir orang menggangap saya A, tetapi sebenarnya orang menganggap saya B. Persepsi penting tetapi bukan hal esensial. Di tahun ini, saya menemukan bahwa banyak orang di sekitar kita yang terjebak pada persepsi akan dirinya, sehingga termakan oleh persepsi itu.

Terakhir, banyak yang terjadi adalah sebuah kebetulan. Saya tertarik dengan pembicaraan Eugene Keith (Wakil Presiden Direktur BCA) dalam forum terakhir YLI, menurutnya dia tidak pernah membuat rencana dalam hidupnya, tetapi mengikuti kemana kesempatan ada. Dia menambahkan jangan sampai rencana membuat tujuan sebenarnya tidak jelas, sehingga kita harus berpedoman pada tujuan bukan pada rencananya.

Selamat menyambut tahun baru 2018, untuk mereka yang masih bergulat dengan arah hidupnya maupun yang sudah menemukan secercah harapan. Bebaskan persepsi orang yang masih membelenggu kita, atau seperti salah satu kata di film Brad’s Status tanggapan yang paling penting bagi hidupmu datang dari lingkaran dekatmu bukan mereka yang tidak mengenalmu.