Insurgent: Manusia Keluar dari Dirinya

Setiap pesan yang disampaikan Hollywood mungkin terasa begitu menyenangkan. Menonton film keluaran barat dengan teman teman, juga begitu menyenangkan. Baru baru ini Hollywood merilis film kelanjutan Divergent yaitu Insurgent. Dengan latar kondisi kelompok yang terfragmentasi, sutradara mampu memberikan suatu pesan kemanusiaan yang jelas. Bahwa manusia adalah makhluk yang tidak terpecah, suatu keluarga, dan bekerja demi kemanusiaan.

Ambisilah yang menggerakan manusia. Konon orang berkata seperti itu. Diawali dari Tris yang belum mampu menerima keadaan, manusia kerap kali juga mengalami trauma. Trauma inilah yang disebut oleh Lacan, seorang psikolog Perancis sebagai pertanda. Syarat bagaimana trauma bisa diobati adalah pengampunan kepada diri sendiri. Sadar bahwa tidak semuanya bisa ditangani oleh dirinya, dan harus sadar bahwa dengan penyembuhan lewat ‘sahabat’ adalah upaya terbaik.

Tidak berhenti sampai disitu, ada goncangan yang dialami. Tris tidak tahan untuk terus berdiam. Berawal dari trauma dan ambisi, manusia bergerak. Mungkin disini Lacan bisa benar. Manusia mulai dari keinginan. Awalnya kita sebagai bayi, hanya ingin menyusu, awalnya hanya ingin bermain, awalnya hanya ingin dimanja dengan 2 tanda saja, yaitu tangis dan tawa. Seiring berjalannya waktu, manusia membuat konsep dari hubungan orang lain yaitu dengan bahasa. Bahasa inilah yang menggerakan manusia. Di film Insurgent ini, bahasa yang dipakai adalah kejujuran, karena dengan jujur terhadap orang lain dan terhadap diri, trauma bisa diobati, dan hanya masalah waktu orang akan bisa mengampuni.

Persahabatan

Film ini tidak saja mengajarkan bagaimana mengobati diri sendiri akibat trauma, tetapi arti sebuah persahabatan. Walaupun terfragmen dan bukan satu plot yang menarik, teman Will yang wanita mampu mengampuni Tris karena membunuh Will. Memang terdengar menyakitkan, tetapi jika kita menjadi pemaaf, kehidupan menjadi lebih baik. Sifat pemaaf yang dibawa itu menjadi prasyarat membawa persahabatan yang lebih beradab.

Akhirnya, film ini ingin bilang bahwa kemanusiaan itu satu, apapun yang kamu kerjakan, apa yang kamu pikirkan, dan apa yang kamu kehendaki, Kita adalah keluarga. Hal ini saya kutip dari Soegijapranata karena memiliki dimensi filosofis. Sebagai makhluk berakal budi, kita harusnya telah berevolusi untuk memiliki sikap kebaikan, ambisi, kejujuran, kepintaran sehingga semua menjadi rangkaian sikap lepas bebas.