Selamat, Kamu Menjadi Beban Negara!

Tulisan ini dimuat di The Geotimes

Ketika masa pendidikan berakhir, setiap orang akan masuk ke dalam pasar tenaga kerja. Mau tidak mau dan siap tidak siap mereka harus memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan (knowledge) dan kemampuan (skill). Tanpa kedua hal itu, calon pekerja tidak direkrut oleh perusahaan. Masalah akan bertambah pelik lagi dengan bertambahnya calon pekerja setiap tahun.

Dari sebab itu, terdapat mereka yang menganggur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 7 juta orang menganggur pada Agustus 2017. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 10 ribu orang dari angka pengangguran tahun 2016. Angka ini menunjukkan bahwa di Indonesia hampir 5 persen angkatan pekerja menganggur.

Selain itu, jumlah ini belum ditambah dengan 9 juta orang yang setengah menganggur atau mereka yang masih menjadi pencari kerja. Masalah yang dihadapi pencari kerja juga tidak sedikit, mereka harus mengetahui di sektor mana mereka ingin bekerja dan merintis kehidupan yang layak.

Dalam konteks ini, sektor jasa masih menjadi “primadona” pekerjaan, karena sektor ini memiliki perkembangan pesat dan menjanjikan transformasi. Tentu saja generasi milenial menginginkan tempat kerja yang dinamis dan jenjang karir yang jelas. Oleh karena itu, banyak generasi muda membangun start-up. Akan tetapi, generasi muda masuk ke dalam penyedia jasa. Kita dapat melihat aplikasi daring seperti Go-Jek, Uber, maupun Grab dan membuat orang berduyun-duyun meninggalkan pekerjaan utamanya dan berganti ke sektor ini.

Dari segi penghasilan, sektor jasa memiliki rata-rata penghasilan lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian dan manufaktur. Namun, mereka yang bekerja di sektor jasa dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan yang tinggi. Hal ini belum ditambah semakin disruptifnya teknologi di sektor jasa.

Disruptif merupakan kondisi saat keadaan awal berubah dengan cepat. Sektor jasa yang efektif dapat kita temukan di Singapura. Negara ini mampu mentransformasi perekonomiannya menjadi efektif berdasarkan sektor jasa. Secara nominal, negara ini adalah penghasil start-up terbesar. Dalam hal ini, salah satu cara untuk mengembangkan sektor jasa yang berdaya saing adalah pendidikan.

Bukan fakta yang mengejutkan bahwa pendidikan orang Indonesia masih rendah. Pada Agustus 2017, 42 persen pekerja kita berlatar belakang pendidikan sekolah dasar (SD). Hal ini menunjukkan bahwa pekerja Indonesia memiliki kemampuan kognitif yang rendah. Hal ini bisa membuat pekerja terjebak di sektor informal, dan pada gilirannya mendapatkan penghasilan yang lebih rendah dibandingkan pekerja di sektor formal.

Celakanya lagi, pendidikan sekolah menengah kejuruan atau SMK tidak menjamin orang langsung dapat bekerja. Tingkat pengangguran terbesar ada di jenjang SMK atau setara dengan 11,4 persen pada tahun 2017, artinya 1 dari 10 pemuda yang lulus dari SMK tidak mampu mendapatkan pekerjaan. Ini menjadi kontradiksi, karena pemerintah tengah mempromosikan sekolah kejuruan, padahal fakta menunjukkan mereka yang menempuh SMK susah untuk mendapat pekerjaan.

Alexander Michael

View more posts from this author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *