Memerdekakan Pekerja

Salah satu agenda pembangunan setelah tahun 2015 atau Sustainable Development Goals, bertujuan untuk memberikan pekerjaan yang layak bagi perempuan dan laki-laki, serta mengurangi ketimpangan. Pesan ini layak diperjuangkan pada hari buruh ini, termasuk tema sentral mengenai buruh dan ketimpangan di Indonesia. Tulisan ini ingin membahas permasalahan mendasar kesejahteraan pekerja dan solusi yang bisa dilakukan.

Pada tahun Agustus 2016, data menunjukkan bahwa 38,7 persen masyarakat Indonesia bekerja dan mendapatkan gaji (BPS, 2016). Berarti, hampir 4 dari 10 masyarakat tergantung pada pendapatan baik tetap maupun tidak tetap. Untuk kasus Yogyakarta, sebesar 45 persen masyarakat adalah pegawai menerima gaji, dan hampir 51 persen berada di sektor jasa.

Poin krusial dari pekerja adalah membutuhkan kecakapan atau keterampilan dan pendidikan. Kedua hal tersebut tidak bisa dihilangkan, bahkan sebuah negara yang berinvestasi pendidikan dan kecakapan memiliki pendapatan nasional lebih besar (Goldin, 2008). Tanpa hal tersebut, pekerja akan terjebak pada sektor informal karena tidak mampu masuk ke pasar tenaga kerja (World Bank, 2016).

Yogyakarta sebagai kota pendidikan memiliki presentase pemuda yang masih bersekolah cukup tinggi, sebesar 39 persen (BPS, 2016), namun masih terdapat 59 persen pemuda yang tidak sekolah lagi. Selain itu, masyarakat Yogyakarta selama periode 2008-2013 mampu mengubah komposisi pendidikan, sehingga hampir setengah pemudanya memperoleh pendidikan SMA. Hal ini berakibat pada perubahan gaji nominal.

Poin krusial kedua dari pekerja yaitu ketimpangan gaji. Ketimpangan gaji dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti perbedaan perusahaan, pendidikan, dan kecakapan. Di sisi lain, ketimpangan gaji akan mendorong konflik yang bisa terjadi di masyarakat (Keefer, 2002). Sehingga, ketimpangan harus diminimalisir untuk mengurangi dampak negatifnya.

Perbedaan gaji antara perkotaan dan pedesaan cukup mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan dari tahun 2014 sampai 2016, secara nominal perbedaan gaji menjadi semakin besar. Selain itu, perbedaan gaji juga terjadi antara laki-laki dan perempuan, sehingga perbedaan ini menunjukkan masih belum samanya kesempatan antara laki-laki dan perempuan.

Solusi yang dapat diterapkan

Terdapat beberapa solusi yang diterapkan perihal isu ketenagakerjaan. Pelindungan tenaga kerja lewat kerangka kerja collective bargaining (CBA) dapat dilaksanakan. Sejak tahun 1949, kerangka ini dibuat dan baru pada tahun 1957, Indonesia turut serta untuk meratifikasi dokumen CBA. Kerangka kerja ini mengharuskan bahwa baik pemberi kerja dan pekerja memiliki suara yang sama dalam sebuah negosiasi, sehingga hasil negosiasi dapat berguna bagi kedua belah pihak (ILO, 2016). Bentuk dari CBA adalah perundingan antara pihak pemberi kerja, pekerja lewat serikat pekerja, dan pemerintah.

Namun, dalam praktiknya masih terdapat kesenjangan, maupun mismanajemen di dalam pengelolaan serikat pekerja, sehingga pada gilirannya beberapa gerakan menghadapi masalah besar. Dari segi jumlah, serikat pekerja tidak mengalami kenaikan signifikan (ILO, 2006). Hal ini membuat serikat pekerja rentan dalam mengajukan haknya. Selain itu, penelitian dari Tadjoeddin (2016) menunjukkan bahwa di Indonesia tren peningkatan gaji mengalami stagnanasi, sedangkan produktivitas dari pekerja mengalami kenaikan. Hal ini paradoks, karena harusnya pendapatan mengalami peningkatan ketika produktivitas meningkat. Kedua hal ini menunjukkan dilema yang harus ditangani oleh semua pihak baik dari pekerja, pemberi pekerja, dan pemerintah.

Di lain sisi, konsep kesejahteraan bahwa pekerja hanya memerlukan gaji/ pendapatan sebagai salah satu hal yang utama, adalah suatu anggapan yang keliru. Diperlukan jaminan yang tidak dimasukkan ke dalam komponen pendapatan seperti keselamatan kerja. Akhirnya, dalam suasana hari buruh ini, kesejahteraan pekerja harus menjadi perhatian utama dari pemangku kepentingan, ditambah juga pekerja harus mengambil peran dalam posisi tawar mereka.

Alexander Michael

View more posts from this author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *