Neolib vs Nasionalis?

Tulisan Ali mengenai “Pancasila, BI, dan Ekonomi” di Kompas (14/6) patut untuk dicermati. Pada awalnya, penulis menjelaskan bahwa Pancasila mendapat tantangan dari segi kepraktisan. Sambil menjelaskan tantangan normatif tersebut, Ali lalu menjelaskan mengenai konsep yang mempengaruhi dinamika pancasila. Konsep tersebut adalah kapitalisme dan imperialisme. Menurut saya, kedua kata ini sering diartikan sebagai “penjajah” ekonomi.

Ada tiga anggapan dalam opini tersebut yang patut dibenahi. Pertama yaitu, pengertian bahwa kapitalisme memisahkan antara buruh dan alatnya. Pengertian ini sudah usang. Diskursus pada masa itu, dunia terpecah menjadi dua kubu, yaitu kapitalisme dan komunisme. Kedua kubu ini susah untuk didamaikan, karena berasal dari pemikiran yang berbeda. Sebagai pembanding argumentasi, Hatta menyatakan dalam tulisannya bahwa terdapat perusahaan bahkan dalam sistem ekonomi pancasila. Hal ini menunjukkan, koperasi bukanlah satu-satunya alat produksi dalam ekonomi pancasila.

Kedua yaitu mengenai commercial society. Pendapat Ali tentang masyarakat ini dijelaskan dengan sempit. Masyarakat komersial bukanlah objek sejarah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masyarakat konsumsi hadir karena kekuatan daya belinya. Menurut Aiko (2015) dalam buku Consuming Indonesia, masyarakat Indonesia yang komersil dapat dibedakan menjadi yang asli dan semu. Selain itu, argumentasi Ali menunjukkan bahwa ketidakpahamannya mengenai inflasi dan sanering pada masa lampau. Masyarakat pada era Belanda tidak bisa mendapatkan barang dan jasa dengan harga terjangkau. Bagaimana mereka bisa disebut masyarakat komersil?

Ketiga yaitu peran Bank Indonesia yang mengalami perluasan dalam tulisan Ali. Dalam tulisan Rogoff, This Time is Different (2014) dijelaskan bahwa ekonomi dunia makin terintegrasi. Guncangan finansial di satu negara, dapat dialami oleh negara lain. Hal ini bukan berarti bahwa negara tidak memiliki “kedaulatan” dalam mengatur perekonomiannya. Dalam pengertian ekonomi konvensional, terdapat dua penguasa, yaitu fiscal dan moneter. Tidak ada yang lebih unggul. Sehingga, salah jika Ali menuliskan bahwa BI merupakan garis terdepan ekonomi.

Masa Depan Ekonomi

Majalah The Economist bulan Juni menyatakan bahwa era ekonomi sekarang didominasi oleh ketidakpastian. Istilah yang populer adalah stagflasi. Kondisi dimana arus likuiditas rendah dan juga gairah ekonomi tidak membaik. Di tengah era seperti ini, Indonesia termasuk negara dengan kinerja ekonomi baik.

Selain itu, perdebatan ekonomi Indonesia selalu diwarnai oleh kata “neoliberalisme” dan “nasionalisme”. Perdebatan model ini sama sekali tidak mendidik publik. Di satu sisi, kita menjadi orang yang melihat kedalam saja, atau bisa saja kita cenderung melihat keluar saja. Diskursus ekonomi sekarang harus lebih diarahkan kepada daya saing. Daya saing yang efektif dan efisien.

Jika Tiongkok mampu menjadi negara perekonomian nomor dua terbesar di dunia, dalam waktu tiga dekade, dan India di peringkat ke tiga. Bagaimana dengan Indonesia? Alhasil, jika kita masih berdebat dengan diskursus neolib dan nasionalis, kita akan jauh terbelakang.

 

Tulisan Fachry Ali dapat dibaca di: http://print.kompas.com/baca/2016/06/14/Pancasila-BI-dan-Ekonomi

Alexander Michael

View more posts from this author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *