Buka Bukumu Baru Bangkit

Pendidikan memang menjadi kunci bagi kehidupan. Di tengah dunia yang mengisyaratkan kinerja dan produktivitas sebagai tolak ukur, pendidikan menjadi salah satu syarat agar orang bisa sukses meraih harapannya. Pendidikan juga terus menjadi isu yang diperdebatkan, dari dahulu sampai dengan hari ini. Semenjak kebangkitan nasional, kaum terpelajar menjadi garda terdepan untuk memberikan aspirasi. Di tingkat pemerintahan, dengan dana yang begitu masif (20% dari APBN), harusnya pendidikan mampu memberi kontribusi bagi bangsa ini. Tentu saja kontribusi positif bagi bangsa yang sedang menyongsong MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dan juga bonus demografi. Tapi kontribusi tersebut terhalang oleh masalah.

Ada tiga masalah yang patut diperhatikan dalam membahas isu pendidikan. Pertama adalah mengenai capaian partisipasi pendidikan. World Bank di tahun 2013 merilis angka penerimaan siswa Sekolah Dasar (primary school) masih ada dikisaran 108%, hal ini masih jauh dari rata-rata Asia Pasifik yang ada dikisaran 118%. Angka 108% juga terus stagnan dari tahun 2008 sampai dengan 2013. Di lain sisi, masih terdapat kesenjangan pendidikan antara pola pendidikan, dan fasilitas pendidikan di kota besar dan kecil. Seperti yang diketahui, fasilitas di kota besar lebih banyak dan memiliki perbandingan guru berbanding murid lebih besar.

Hal yang kedua adalah kualitas pendidikan. Isu ini ditinjau dari skor PISA (Programme for International Student Assesment) yang diterbitkan oleh OECD. Di tahun 2012, Indonesia memiliki skor 396 untuk membaca. Sedangkan di tahun 2009,  skor yang dimiliki Indonesia adalah 402 untuk membaca. Dari data tersebut, terdapat penurunan skor membaca, ironis sekali bahwa bacaan tidak menjadi sumber pengetahuan bagi para pelajar. Selain itu, posisi skor Indonesia tidak berubah dari tahun ke tahun. Dari survei di tahun 2000 sampai dengan 2012, Indonesia berada di urutan bawah.

Ketiga, adalah mengenai minat baca, proses membaca akan memberi pengetahuan baru, sehingga dengan pengetahuan tersebut, kita dapat mengetahui lebih banyak hal dan dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan kreatif. Survei terbaru menunjukkan bahwa minat baca penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Dalam jangka waktu sebulan 28,4% responden membaca kurang dari satu buku dan tidak selesai, sedangkan 28,1% responden mengaku tidak suka membaca buku. Dengan lama membaca per minggu sebanyak 6 jam, kita sebagai bangsa Indonesia tertinggal dengan bangsa lain

Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari bangsa ini untuk bergerak maju? Membaca memang menjadi prasyarat budaya bangsa yang maju dan luhur. Jarang kita jumpai, orang menunggu kereta sambil membaca, orang naik angkutan umum membaca. Namun, hal itu sudah menjadi “upacara” harian masyarakat di negara maju. Ingat, dalam momen kebangkitan nasional, jangan lupa untuk membaca, baru bangkit. Dengan membaca, orang dididik untuk menjadi manusia yang luhur dan beradab.

Alexander Michael

View more posts from this author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *