Kenapa Pikiran Si Barat Beda dengan Si Timur

Liburan ini bisa dibilang lumayan produktif, disamping menghabiskan buku-buku musim hujan yang berkaitan dengan ekonomi dan sospol (kalau di Inggris kan winter books), saya belajar hal baru yaitu mengenai filsafat kebudayaan timur dan barat. Wah kok jadi berat ya? Filsafat bukan masalah hal yang berbau teori, tetapi juga bicara mengenai manusia dan ragawinya.

Boleh dibilang bahwa rangkaian sejarah manusia bicara banyak mengenai pikiran. Orang berlomba-lomba untuk memecahkan masalahnya dengan temuannya. Penulis masih ingat ketika menonton film Lucy, sebuah film bersitan lama ketika SMP, bercerita bagaimana evolusi manusia dimulai dengan kerja, dan berburu. Mulailah alat-alat digunakan sebagai pembantunya. Ada chopper, ada flake, dan abris sous rouche d.l.l. Yang menjadi masalahnya adalah saat manusia membuat barang temuan, itu menjadi inovasi dan penemuan yang baru lagi. Karl Polanyi, mencatat bahwa sebenarnya pertukaran antar manusia akan barang pembantunya sudah dilakukan melewati dimensi waktu dan tempat seperti masyarakat prasejarah. Hal kedua yang dibicarakan banyak oleh arus pemikiran (filsafat) barat adalah mengenai merespon permasalahan yang ada. Sejarah telah menceritakan kepada kita bagaimana circular flow diagram bermula dari keingintahuan raja akan rakyat yang bisa membayar pajak, bagaimana Y=C+S adalah kritik terhadap kebobrokan sistem liberalisme perdagangan, dan bagaimana game theory adalah lawan dari rational situated. Memang akademisi barat telah membuat teori baru, yang merupakan inovasi, hanya dipreteli sedikit dan disulam lagi menjadi hal yang baru. Ketiga adalah masyarakat barat bicara banyak mengenai pentingnya percobaan. Semakin banyak hal yang dicoba, maka kita akan berhasil. Imitation Game (2015) menceritakan bahwa keputusasaan bukan jalan yang terakhir untuk ditempuh. Arogansi, selfesteem, dan perseverance menjadi hal yang mengikutinya. Rasanya semua film hollywood bisa bercerita hal yang sama dimana klimaks dari film adalah orang tersebut “mencoba”. Kita mungkin sudah dimanjakan dengan berbagai filsafat barat yang tumbuh sampai dengan saat ini. Lantas, mari kita tengok saudara barat yaitu si Timur.

“Kita gagal menghayati sastra Jendra Hayuningrat.” Bagian dari anak Bajang mengiring angin merasuki pikiran penulis. Walaupun novel yang tercatat sebagai best seller ini awalnya ambigu, tapi bisa dikatakan sebagai pengantar filsafat timur yang baik. Kita (termasuk penulis) percaya kepada rasa. Rasa yang menggerakan budi manusia. Kiyosaki, berbicara banyak mengenai rasa. Jelas bahwa dia menolak rasa, karena dia tidak mengerti rasa yang telah melahirkan rahwana yang berbuat jahat. Rasa yang telah melahirkan nafsu. Tapi, apakah rasa begitu jahat? Yudi Latif dalam bukunya mata air kehidupan bertutur kemanusiaan yang membuat kita tetap menjadi person.

Agak buram mungkin sampai sini….

Rasa dihayati bukan dengan pikiran bung….

Hal kedua yang dibahas oleh ketimuran adalah kepasrahan. Kepasrahan berbicara bagaimana Soekarno dan Hatta digiring oleh tentara sekutu yang dibonceng oleh NICA, dan bagaimana ketika Dipenogoro dilucuti senjatanya oleh pasukan Belanda dan beberapa kali dibuang ke Batavia dan gugur sebagai pahlawan di Makassar. Berbicara mengenai kepasrahan ternyata berasal dari kekuatan jiwa orang Jawa sendiri. Hal ini diceritakan oleh Niels Mulder dalam bukunya pengalaman antropolog di Jawa. Tapi jaman sudah berubah. Dan masyarakat sekarang digiring kepada dualisme modernitas. Si Teuku di Aceh memakai jaringan 4G untuk mengakses jurnal bisnis di Universitas Syiah Kuala yang berjuang untuk mendapatkan akreditasi jaringan univ. bisnis berbasis di Amerika Serikat

Apa yang kita pelajari? bahwa sebagai si Timur, kita harusnya memandang dengan berbagai sisi. Sisi yang lebih luas untuk mengetahui permasalahan lebih dalam. Memecahkan masalah dengan rasa. Orang Amerika belum tentu bisa. Selain harus logis kepemimpinan harus menyentuh rasa setiap orang. Freakonomics mengajarkan kepada kita justru kitalah yang harus membuat sistem itu bekerja. Pikirlah dari luar boks sehingga kamu tahu bagaimana boks tersebut. Selamat menjadi si timur dan si barat ya…

Salam dari Jakarta, yang banjir…

Alexander Michael

View more posts from this author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *