Merantau ke Daerah Istimewa

Tell everybody I’m on my way new friends and new places to see. With blue skies and weather I’m on my way and there’s I would rather be ~On My Way, OST. Brother Bear~

Lima menit menuju kedewasaan saya. Sudah hampir 18 tahun saya diberi anugerah kehidupan dan pada kali ini mungkin artikel ini pertama kali saya tulis dan mengawali perjalanan saya di kampus biru ini. Di waktu saya merasa terkagum kagum dengan surprise party saya untuk pertamakalinya. Saya mulai merasa bahwa ketika saya mereka seluruh kisah saya mulai dari perjalanan saya dari nol sampai dengan hari ini, saya hanya bisa merangkainya menjadi satu kata, syukur.

Kadang benar kata papan motivasi ataupun motivator handal lewat bukunya, atau siapapun ahli kejiwaan di dunia ini dimana kita harus keluar dari zona nyaman. Dibesarkan dari keluarga yang memberikan proteksi kepada saya, disamping kebebasan untuk memilih, saya paham betul bahwa ketika ada dua pilihan yang ditawarkan untuk hidup ini, ada satu pilihan dimana kita tetap berada di tempat itu-itu saja, dan ada pilihan untuk keluar serta mengembangkan hidup ini lebih jauh, saya akan memilih yang kedua. Saya belum menjalani kehidupan perantauan ini sepanjang satu tahun dan saya bukan ahli psikologi manusia namun yang jelas saya tercengang ketika saya dilepaskan, inisiatif, kerja keras semua harus dilakukan. Perasaan saya kali ini tidak dibatasi oleh intuisi semata namun dirasakan dengan hati. Orang kadang bilang bahwa sebagai manusia harus digunakan rasionalitas, tetapi tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan rasionalitas. Karena saya berpendapat rasionalitas tidak dapat mengakar kuat

Talcott Parson dalam bukunya mengatakan bahwa konsep sosiologinya berpegang pada AGIL (Adaptation, Goal, Integration, and Latency). Dalam perspektif fungsionalisnya dapat dikatakan masyarakat beradaptasi terhadap lingkungan baru dan ikut dalam berbagai norma dan aturan yang ada, memiliki tujuan yang membawanya turun berperan didalam peran masyarakat. Berintegrasi dalam arti ikut ambil kegiatan didalam perbedaan. Dan fungsi laten yang terdalam dimiliki oleh manusia. Saya kira konsep AGIL bukan saja berkaitan dengan teori sistem sosial. Tetapi saya rasakan sebagai pendorong setiap pribadi manusia

Cukup berbasa basi, saya belum menjadi ilmuwan sosial ataupun ahli nujum. Kepada para mahasiswa, nikmatilah setiap masa menjadi mahasiswa. Walaupun jadwal pelajaran tidak sepadat yang ada, namun inilah saatnya kita belajar untuk ‘dunia’ kita ke depan. Saya merasa bahwa sebagai rumpun sosial, Ekonomi berpautan dengan semua bidang. Bukan ide sentralnya namun bersifat komplemen.

Menutup tulisan ini, ada satu kuliah Prof Gun, dia ahli ekonomi kerakyatan dan dia berkata orang harus memberi dulu baru menerima, orang harus menabur dulu baru menuai, berani untuk berproduksi dan juga konsumsi. Terima kasih atas pengalaman rantau saya yang diberikan atas kasih orangtua, teman-teman kampus, teman-teman kolese. Proses ini akan berlanjut terus sampai sekarang, dan kedepannya

17 September 2014

Salam dari Kota Pendidikan

 

Alexander Michael

View more posts from this author
2 thoughts on “Merantau ke Daerah Istimewa
  1. Him

    Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering.

    Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas. Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur” Suara itu berasal dari mulut seorangi insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

    Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

    Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya.

    Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “DENDAM POSITIF”Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi.Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur. Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya.

    Apakah sampai di situ saja?Tidak! Karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

    Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian ‘air ‘di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu “Apa jawaban sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu.Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.”Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan.

    Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

    Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakan 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas. Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

    Tahukah Anda kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan MineralArab Saudi. Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia. Itulah kekuatan “DENDAM POSITIF”. Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita. Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat “Dendam Positif.”

     
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *