The Giant Selfish: Melihat Anak Tanpa Noda

You let me play once in your garden, to-day you shall come with me to my garden, which is Paradise.

Dunia memang dipenuhi keinginan. Keinginan untuk selalu bergerak, ingin selalu berdinamika, dan keinginan untuk bebas. Rasanya itulah yang menggambarkan pikiran penulis ketika mendeskripsikan film The Giant Selfish (2013). Adaptasi yang begitu apik disutradarai dan juga dibuatnya. Kiranya film ini masuk salah satu film terbaik yang pernah saya tonton dan saya resensi, film ini memiliki sarat makna dan juga refleksi. Disamping itu berderet-deret penghargaan mulai Cannes 2013, British Film Festival, dan Palm Spring

Rasanya tidak adil jika saya tidak menyisipkan sinopsis di dalam tulisan saya kali ini. Adalah Arbor dan Swifty (berurutan kiri-kanan lih gambar di bawah) adalah dua remaja yang berteman baik, latar belakan keluarganya adalah seorang pekerja kelas menengah bahkan kecenderungan kelas menengah bawah.

Diadaptasi dari karya sastra Oscar Wilde

Diadaptasi dari karya sastra Oscar Wilde

Dari awal film sampai dengan pertengahan film. Kita disajikan dengan realitas konsep sosialisasi. Dimana anak-anak belajar untuk meniru orang disekitarnya. Awalnya mereka bersekolah namun akibat Arbor membantu Swifty yang suka dibully oleh teman-temannya, maka terpaksa Arbor mencekik dan juga memukul penganiaya Swifty sampai akhirnya si korban gegar otak. Ini membuat Arbor dihukum dengan dikeluarkannya dia sedangkan Swifty diskors. Mungkin sampai disini penonton cukup lega akhirnya Swifty tidak terdorong menjadi nakal. Namun akhirnya makin menjadi-jadi. Arbor yang tidak memiliki pekerjaan, mencari pekerjaan ke Kitten. Mungkin disini titik baliknya. Arbor mengajak Swifty untuk bekerja dengan Kitten dan disini malapetaka terjadi. Mereka mencuri kabel dan akhirnya Swifty terkena sengatan listrik, dan terpaksa meregang nyawa.

kitten

Surga seperti apa?

Mungkin ini pertanyaan bagi kita, sampai dimana sosialisasi dapat membuat anak berkembang semakin jauh. Sosialisasi adalah konsep ilmu sosial dimana seorang anak belajar berkembang di lingkungan tempat tinggalnya. Mungkin kalau pembaca dari jurusan sosial mengetahui konsep ini. Cooley mengatakan bahwa anak-anak belajar dengan looking glass itself bagaimana anak-anak belajar dengan melihat kondisi lingkungannya, tergerak untuk melakukan sesuatu dan akhirnya bergerak karena situasi tersebut. Jadi, anak-anak mendefiniskan lingkungannya dahulu.

Dari awal sampai pertengahan film  mungkin saja penonton merasa kaget karena kata-kata kotor mungkin antara anak dengan ibunya, anak dengan ayahnya. Tetapi itulah realitas bagaimana masyarakat berkembang untuk kelas pekerja bawah.

Pertanyaannya apakah Arbor bersalah karena membuat Swiftie meninggal dengan konyol? Disajikan di film ini bahwa akhirnya Kitten menyerahkan diri karena merasa bersalah. Ya, mungkin itulah yang harus dilakukan tanpa kita sadar, kita seringkali menjadi raksasa raksasa yang egois untuk melakukan apa yang kita suka

Alexander Michael

View more posts from this author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *